Tuhan,Ketuhanan,dan Islam

Tuhan dan Ketuhanan jelas merupakan dua hal yang berbeda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dan sebagainya -bisa ditambahkan; yang mempunyai kekuatan yang maha dahsyat diluar kekuatan manusia yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Sedangkan Ketuhanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan

Disamping Tuhan, ada juga kelompok manusia yang mempercayai dan menyembah berhala, dewa-dewa, nenek moyang, binatang, matahari dan lainnya. Semuanya itu berkedudukan sama dan sederajat dengan Tuhan, sebagai kata khusus dari segala sesuatu yang yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa dan sebagainya. Bedanya, jika Tuhan selalu turun atau ada dalam ajaran agama, maka berhala, dewa-dewa, nenek moyang, binatang, matahari dan sebagainya itu turun juga, bisa dalam bentuk kepercayaan, isme-isme seperti paganisme, animisme, dinamisme, totemisme dan lain-lain.

Tuhan bukanlah Dzat yang terpisah dari kehidupan manusia dan alam semesta, namun Tuhan turun kedalam kehidupan kita dengan membawa ajaran tata kaidah melalui para pembawa pesan-Nya dalam bentuk agama; yang mengatur perikehidupan sesama manusia, membawa kabar baik dan juga ancaman, serta yang menciptakan dunia, mengaturnya, dan kelak akan menghancurkannya. Tuhanlah yang memberikan batasan-batasan moral dan perilaku manusia dalam kehidupannya di bumi ini, yang fungsinya sebagai pengontrol dan pembimbing. Itulah yang membedakan agama –yang memiliki seperangkat aturan dalam mengatur kehidupan manusia- dengan sistem kepercayaan primitif seperti isme-isme diatas yang tidak memiliki perangkat aturan seformal agama. Jadi, agama adalah suatu sistem yang berketuhanan dengan menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala macam aturannya.

Jika saya bandingkan, Ketuhanan yang Maha Esa itu lebih tepat ketimbang Tuhan Yang Maha Esa. Sungguh cermat para Founding Fathers perumus Pancasila tersebut. Mengapa? Karena sejak mula diproklamasikan kemerdekaannya tahun 1945 atau bahkan jauh sebelum itu (dalam bentuk wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan), Indonesia adalah negara yang berketuhanan, artinya negara yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama, serta sebagai sebuah institusi, negara mendasarkan segala macam tindakannya pada nilai-nilai agama, baik secara substansial maupun formal.

Memang, nenek moyang kita dahulu memeluk berbagai macam kepercayaan seperti animisme, dinamisme, totemisme dan lain sebagainya. Namun kedatangan berbagai macam agama ke Nusantara mulai dari Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen telah membawa sebuah perubahan besar dalam sistem-sistem kepercayaan primitif tersebut yang membuat penduduk pribumi mengenal dan menjadi pemeluk agama serta meninggalkan kepercayaan lamanya, yang kelak akan berlanjut hingga masa kerajaan-kerajaan, masa kolonialisasi sampai terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia, walaupun memang tidak mutlak seratus persen. Tiga agama pertama yang datang ke Nusantara tersebut telah melahirkan kebudayaan dan peradaban besar di Nusantara ditandai dengan jatuh-bangunnya berbagai kerajaan-kerajaan besar dengan corak keagamaannya masing-masing yang memiliki wilayah kekuasaan begitu luas, seperti Majapahit dan Singosari (Hindu), Sriwijaya (Buddha), Demak dan Mataram (Islam) serta kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Bahkan wilayah Republik Indonesia saat ini tidaklah jauh berbeda dengan wilayah kekuasaan Majapahit. Hal itu cukup membuktikan bahwa secara historis-kultural, Nusantara sebagai cikal bakal Indonesia, lebih beragama ketimbang berkepercayaan (baca: isme-isme).

Slogan kita adalah Bhinneka Tunggal Ika, dalam konteks agama, kita haruslah tetap bersatu meskipun berbeda-beda agama. Itulah fungsi sentral “Ketuhanan” yang sifatnya lebih integratif ketimbang “Tuhan” yang justru bersifat disintegratif jika di-attach dalam Pancasila. Republik Indonesia mengakui 5 agama; Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Terlepas dari doktrin masing-masing agama, semua agama yang diakui di Indonesia ini bersifat “berketuhanan” atau “theis” sebab agama-agama tersebut mempunyai sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) kepada Tuhan yang Mahakuasa, tata peribadatan, dan tata kaidah yang bertalian dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya dengan kepercayaan itu (KBBI).

Akan berbahaya bagi proses integrasi bangsa jika kata “Tuhan”lah yang dipakai dalam sila pertama Pancasila, sebab hal itu akan memicu reaksi masing-masing agama untuk berself-interpreting “Tuhan” yang dimaksudkan Pancasila tersebut adalah Tuhan yang sesuai dengan agama mereka masing-masing. Hal ini semakin diperparah dengan “Yang Maha Esa” yang membuat mereka juga mengklaim Sang Esa itu adalah Tuhan mereka sendiri yang esa. Maka Islam akan mengklaim Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Pancasila itu Allah SWT, Kristen Jesus Kristus, Buddha mengklaim Buddha, Hindu mengklaim Sang Hyang Widhi dan seterusnya. Sebaliknya jika yang dipasang adalah kata “Ketuhanan” maka tak akan ada saling klaim ketuhanan tersebut sebab realitanya mayoritas penduduk Indonesia berketuhanan (beragama) dan di negeri ini, Indonesia ini, kelima agama itulah yang diakui, diakui bersama-sama. Inilah penyelesaiannya. Maka penghapusan 7 kata dalam Pancasila sangatlah tepat. Hal ini agar Indonesia tidak Islam-sentris (walaupun Islam adalah mayoritas) serta tidak menimbulkan sentimen agama serta perpecahan. Substansinya adalah: agama di Indonesia ada lima, namun Tuhannya satu. Artinya, Tuhan satu di hati masing-masing, umat beragama. Itulah substansinya.

Bahaya lainnya adalah jika “Tuhan” ada dalam sila pertama Pancasila menggantikan “Ketuhanan”, maka berarti Indonesia juga mengakui secara konstitusional agnostisisme, paganisme, animisme, dinamisme, atheisme (yang menginterpretasikan Tuhan sesuai dengan individu masing-masing, mempercayai bahwa Tuhan itu tidak ada, namun sebenarnya atheis masihlah bertuhan, yakni bertuhan pada ketiadaan Tuhan, sebagaimana ejekan Nietzsche kepada para atheis) dan lainnya yang semuanya itu masihlah memiliki Tuhan-Tuhan dalam berbagi bentuk dan penafsiran serta diragukan batasan-batasan moral dan perangkat aturan yang jelas bagi penganutnya.

Sekali lagi, Republik Indonesia adalah negara yang berketuhanan, bukan negara yang berkedewaan, berpaganismean, dan seterusnya. Jadi, Pancasila tetaplah Ketuhanan yang Maha Esa, slogan kita tetap Bhinneka Tunggal Ika, yang kedua-duanya bermakna filosofis yang tinggi serta bersifat integratif bagi seluruh rakyat Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: